dinasti umayyah dan abbasiah

Pendahuluan
Banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan ketika kita mempelajari sejarah, terutama sejarah peradaban Islam seperti dinasti Umayyah dan Abbasiyyah. baik sejarah tentang perjalanan Khulafa’ (penguasa islam), maupun bentuk- bentuk pemerintahan dan sosial keasyaraktan islam pada masa itu. Sangat banyak kebaikan yang wajib kita teladani, diantaranya tentang keadilan, keberanian, pengorbanan,dansifat luhur lainnya. Sedangkan terhadap sisikelam dari kehidupan sebagian mereka, maka itu dapat menjadi pelajaran, bahwa siapa yang mengikuti jejak mereka, dia punakan menuai kepahitan sebagaimana yang pernah mereka rasakan.
Makalah ini penulis akan mencoba memaparkan sedikit tentang sejarah dinasti Umayyah dan Abbasiyyah, dalam perkembangan dari masa kejayaan dan factor- factor yang menyebabkan kehancurannya.

Dinasti Umayyah
Dalam Maju mundurnya peta kekuasaan Dinasti Umayyah terjadi akibat perbedaan dinamika kepemimpinan setiap periode khalifah, khususnya dalam bidang politik. Pada pembahasan akan dicoba mendeskripsikan, dan menganalisa perkembangan politik yang terjadi, serta membandingkannya dengan prinsip-prinsip pemerintahan yang dikembangkan oleh Rasul SAW dan khulafa’ sebelumnya.k
Perkembangan Politik
1. Bentuk Pemerintahan
Tradisi bentuk khilafah konfederasi yang dicanangkan rasul pada tahun 622 M (awal periode Madinah), terus berlanjut hingga masa Dinasti Umayyah sejak tahun 661 M. Bedanya, Rasul menerapkan bentuk konfederasi kabilah (confederation of tribes), sedangkan Dinasti Umayyah menerapkan konfederasi propinsi (confederation of provinces). Untuk menangani banyaknya propinsi yang ada, maka khalifah ketika itu, Muawiyah bin Abu Sofyan, mencoba menggabung beberapa wilayah menjadi satu propinsi. Wilayah-wilayah ini terus berkembang sejalan dengan keberhasilan program futuhat. Setiap gubernur memilih amir atas jajahan yang berada dalam kekuasaannya, dan para amir tersebut bertanggung jawab langsung kepada khalifah. Konsekuensinya, para amir berfungsi sebagai khalifah di daerah. Nilai politis kebijakan ini adalah upaya sentralisasi wilayah kekuasaan, mengingat potensi daerah-daerah tersebut dalam menopang jalannya pemerintahan, baik dari sudut pandang ekonomi, maupun keamanan dan pertahanan nasional. Pada masa Hisyam bin Abdul Malik, Gubernur mempunyai wewenang penuh dalam hal administrasi politik dan militer dalam propinsinya, namun penghasilan daerah ditangani oleh pejabat tertentu (sahib al-kharaj) yang mempunyai tanggung jawab langsung pada khalifah.

2. Sistem Pemerintahan
Suatu perubahan besar, dari segi sistem pemerintahan, terjadi pada masa Muawiyah berkuasa. Sejak masa pemerintahan rasul SAW hingga Ali bin Abu Thalib, sistem pemerintahan yang digunakan adalah sistem khilafah an-nubuwah (pemerintahan prophetik), dimana setiap khalifah berperan ganda dalam menggantikan posisi Rasul, dalam hal kepala negara dan pemuka Islam. Pada masa Dinasti Umayyah, Muawiyah dengan pengalaman hubungan luar negeri selama berpuluh-puluh tahun mencoba untuk mengeksiskan sistem pemerintahan baru, yaitu sistem al-Mulk (kerajaan/imperium). Perubahan sistem tersebut dilakukan dengan cara meniru sistem yang berkembang pada pemerintahan Persia, Bizantium, dan Etiopia pada masa itu.
3. Perlindungan Terhadap Ahl az-Zimmi
Menurut analisa W. Montgomery Watt, perlindungan terhadap kabilah yang lemah sudah merupakan tradisi padang pasir. Dan sudah ada dalam kemaharajaan Sasania Persia, dan bukan merupakan hal istimewa dalam historitas imperium Islam. Pada masa kekuasaan Dinasti Umayyah, isu peran perlindungan terhadap ahl az-zimmi diangkat ke permukaan adalah pada masa Umar (II) bin Abdul Aziz. Beliau dimasyhurkan oleh para sejarawan, bukan hanya karena rasa kasihan dan remisi terhadap pajak masyarakat muslim yang tidak mampu, melainkan juga rasa kasihan dan remisi yang diberikan bagi masyarakat Kristen. Sikap toleransi dengan ahl az-zimmi ini juga dikembangkan terus setelah pembinaan yang dilakukan oleh Umar (II). Bukti nyata keterpaduan toleransi tersebut terlihat jelas pada periode Hisyam bin Abdul Malik, dimana Gubernur Irak ketika itu adalah Khalid bin Abdullah al-Qasri yang ikut untuk membantu pembangunan gereja di Kufah. Perilaku ini bukan hanya berlaku bagi masyarakat Kristen saja, melainkan juga pada kaum Yahudi, dan Zoroaster.

Beberapa faktor yang menyebabkan Dinasti Bani Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran:
1. Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru (bid’ah) bagi tradisi Islam yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidak jelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat di kalangan anggota keluarga istana. 2. Latar belakang terbentuknya dinasti Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali. Sisa-sisa Syi’ah (para pengikut Abdullah bin Saba’ al-Yahudi) dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka seperti di masa awal dan akhir maupun secara tersembunyi seperti di masa pertengahan kekuasaan Bani Umayyah. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah. 3. Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam, makin meruncing. Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah mendapat kesulitan untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Disamping itu, sebagian besar golongan mawali (non Arab), terutama di Irak dan wilayah bagian timur lainnya, merasa tidak puas karena status mawali itu menggambarkan suatu inferioritas, ditambah dengan keangkuhan bangsa Arab yang diperlihatkan pada masa Bani Umayyah. 4. Lemahnya pemerintahan daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan. Disamping itu, para Ulama banyak yang kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat kurang. 5. Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan dinasti Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan al-Abbas ibn Abd al-Muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan dan kaum mawali yang merasa dikelas duakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.
Dinasti Abbasiyah
Bani Abbasiyah atau Kekhalifahan Abbasiyah adalah kekhalifahan kedua Islam yang berkuasa di Bagdad (sekarang ibu kota Irak). Kekhalifahan ini berkembang pesat dan menjadikan dunia Islam sebagai pusat pengetahuan dengan menerjemahkan dan melanjutkan tradisi keilmuan Yunani dan Persia. Kekhalifahan ini naik kekuasaan setelah mengalahkan Bani Umayyah. Bani Abbasiyah dibentuk oleh keturunan dari paman Nabi Muhammad yang termuda, Abbas. Berkuasa mulai tahun 750 dan memindahkan ibukota dari Damaskus ke Baghdad. Berkembang selama dua abad, tetapi pelan-pelan meredup setelah naiknya bangsa tentara-tentara Turki yang mereka bentuk, Mamluk. Selama 150 tahun mengambil kekuasaan memintas Iran, kekhalifahan dipaksa untuk menyerahkan kekuasaan kepada dinasti-dinasti setempat, yang sering disebut amir atau sultan. Menyerahkan Andalusia kepada keturunan Umayyah yang melarikan diri, Maghreb dan Ifriqiya kepada Aghlabid dan Fatimiyah. Kejatuhan totalnya pada tahun 1258 disebabkan serangan bangsa Mongol yang dipimpin Hulagu Khan yang menghancurkan Bagdad dan tak menyisakan sedikitpun dari pengetahuan yang dihimpun di perpustakaan Bagdad.
Menuju kekuasaan dan masa berkuasanya
Kekuasaan dinasti Bani Abbas, atau khilafah Abbasiyah, sebagaimana disebutkan melanjutkan kekuasaan dinasti Bani Umayyah. Dinamakan khilafah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan al-Abbas paman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abass. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s/d. 656 H (1258 M).
Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode:
1. Periode Pertama (132 H/750 M-232 H/847 M), disebut periode pengaruh arab dan Persia pertama. 2. Periode Kedua (232 H/847 M-334 H/945 M), disebut periode pengaruh Turki pertama. 3. Periode Ketiga (334 H/945 M-447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Bani Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua. 4. Periode Keempat (447 H/1055 M-590 H/l194 M), masa kekuasaan daulah Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua (di bawah kendali) kesultanan Bani Seljuk (salajiqah al-Kubra/Seljuk agung). 5. Periode Kelima (590 H/1194 M-656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Bagdad (invasi dari tar-tar,dan ekspansi bani Utsmani secara besar-besaran).
Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Pada masa pemerintahan Abu al-Abbas Rahimahullah , pendiri dinasti ini sangat singkat, yaitu dari tahun 750-754 M. karena itu, pembina sebenarnya dari daulah Abbasiyah adalah Abu Ja’far al-Manshur Rahimahullah (754-775 M). Dia dengan keras menghadapi lawan-lawannya dari Bani Umayyah, Khawarij, dan juga Syi’ah yang merasa dikucilkan dari kekuasaan. Untuk mengamankan kekuasaannya, tokoh-tokoh besar yang mungkin menjadi saingan baginya satu per satu disingkirkannya. Abdullah bin Ali dan Shalih bin Ali, keduanya adalah pamannya sendiri yang ditunjuk sebagai gubernur oleh khalifah sebelumnya di Syria dan Mesir, karena tidak bersedia membaiatnya, dibunuh oleh Abu Muslim al-Khurasani atas perintah Abu Ja’far Rahimahullah . Abu Muslim sendiri karena dikhawatirkan akan menjadi pesaing baginya, dihukum mati pada tahun 755 M.
Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun al-Rasyid Rahimahullah (786-809 M) dan puteranya al-Ma’mun (813-833 M). Kekayaan yang banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid Rahimahullah untuk keperluan sosial. Rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi didirikan. Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Disamping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Kesejahteraan, sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi. Al-Ma’mun, pengganti al-Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu filsafat. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli (wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah). Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Baitul-Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masa Al-Ma’mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
Perbedaan Bani Abbas dan Bani Umayyah Bani Abbasiyah pada periode ini lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. Inilah perbedaan pokok antara Bani Abbas dan Bani Umayyah. Disamping itu, ada pula ciri-ciri menonjol dinasti Bani Abbas yang tak terdapat di zaman Bani Umayyah.
1. Dengan berpindahnya ibu kota ke Baghdad, pemerintahan Bani Abbas menjadi jauh dari pengaruh Arab Islam. Sedangkan dinasti Bani Umayyah sangat berorientasi kepada Arab Islam. Dalam periode pertama dan ketiga pemerintahan Abbasiyah, pengaruh kebudayaan Persia sangat kuat, dan pada periode kedua dan keempat bangsa Turki sangat dominan dalam politik dan pemerintahan dinasti ini. 2. Dalam penyelenggaraan negara, pada masa Bani Abbas ada jabatan wazir, yang membawahi kepala-kepala departemen. Jabatan ini tidak ada di dalam pemerintahan Bani Umayyah. 3. Ketentaraan profesional baru terbentuk pada masa pemerintahan Bani Abbas. Sebelumnya, belum ada tentara khusus yang profesional. Sebagaimana diuraikan di atas, puncak perkembangan kebudayaan dan pemikiran Islam terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi, tidak berarti seluruhnya berawal dari kreativitas penguasa Bani Abbas sendiri. Sebagian di antaranya sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam.
Demikianlah kemajuan politik dan kebudayaan yang pernah dicapai oleh pemerintahan Islam pada masa klasik, kemajuan yang tidak ada tandingannya di kala itu. Pada masa ini, kemajuan politik berjalan seiring dengan kemajuan peradaban dan kebudayaan, sehingga Islam mencapai masa keemasan, kejayaan dan kegemilangan. Masa keemasan ini mencapai puncaknya terutama pada masa kekuasaan Bani Abbas periode pertama. Namun sayang, setelah periode ini berakhir, Islam mengalami masa kemunduran. Wallahul Musta’an.
Faktor-faktor penting yang menyebabkan kemunduran Bani Abbas adalah:
1. Luasnya wilayah kekuasaan daulah Abbasiyyah sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan. Bersamaan dengan itu, tingkat saling percaya di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah. 2. Dengan profesionalisasi angkatan bersenjata, ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi. 3. Keuangan negara sangat sulit karena biaya yang dikeluarkan untuk tentara bayaran sangat besar. Pada saat kekuatan militer menurun, khalifah tidak sanggup memaksa pengiriman pajak ke Baghdad.
Penutup
Pada setiap kepemimpinan ditiap dinasti pastilah ada saat kejayaan akan tetapi adanya factor- factor kekurangan yang akan menggantikan dengan dinasti selanjutnya. Dan itu akan terjadi disetiap masa, pada akhirnya penulis mencoba memberikan perbandingan antara prinsip-prinsip pemerintahan Umayyah dan prinsip-prinsip pemerintahan Abbasiyah. Penulis berharap atas kritik dan saran dari semua pihak untuk kesempurnaan tulisan ini.
Daftar Pustaka
Abul A’la al-Maududi, al-Khilafah wa al-Mulk, alih bahasa Muhammad al-Baqir: Khilafah dan Kerajaan, Mizan, Cet VI, Bandung, 1996.
Syeikh Hudhri Bek, Tarikh al-Umam al-Islamiyah, Mathba’ah al-Istiqamah, Cet. VII, Kairo, Mesir, 1376 H.
As suyuti, imam, Tarikh khulafa’, Jakarta timur: Pustaka al- Kautsar, 2005.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: